Book Lunch Pangan Indonesia, Zulhas Pangan Adalah Masalah Kedaulatan dan Masa Depan Bangsa

Centangsatunews/JAKARTA — Persoalan pangan kembali menjadi perhatian penting dalam diskusi nasional. Hal itu mengemuka dalam acara Book Lunch Pangan Indonesia yang digelar di JICC, Senayan, Jakarta Pusat, yang menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan bersama Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan, Dirgayuza Setiawan.
Acara yang dipandu Prita Laura selaku Communication Strategist tersebut membahas gagasan dan pemikiran yang dituangkan dalam buku Pangan Indonesia. Buku tersebut mengajak masyarakat melihat pangan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, melainkan bagian penting dari kedaulatan dan masa depan Indonesia.
Dalam pembukaan diskusi, Prita Laura mengutip pandangan Presiden Prabowo Subianto mengenai pentingnya ketahanan pangan bagi sebuah negara.
“Masalah pangan adalah masalah kedaulatan. Masalah pangan adalah masalah kemerdekaan. Masalah pangan adalah masalah survival kita sebagai bangsa. Jika kita ingin menjadi negara maju, pangan harus aman dulu.”

Prita kemudian meminta Zulkifli Hasan menjelaskan lebih jauh gagasan utama yang melatarbelakangi buku tersebut, khususnya mengapa persoalan pangan yang sangat mendasar kembali menjadi perhatian utama dalam kebijakan Indonesia.

Pangan Tidak Boleh Dianggap Persoalan Biasa Zulkifli Hasan mengatakan masyarakat selama ini cenderung menganggap pangan sebagai sesuatu yang biasa karena makanan selalu tersedia di meja makan. Padahal, di balik makanan yang dikonsumsi setiap hari terdapat persoalan besar mengenai produksi, distribusi, petani, nelayan, peternak hingga ketergantungan terhadap impor.
“Pangan itu kita sudah terbiasa. Karena sudah setiap hari makan, kadang-kadang kita tidak mau tahu lebih lanjut. Padahal, hampir semua makanan yang kita makan memiliki persoalan strategis,” ujar Zulkifli.

Menurutnya, pangan juga menjadi salah satu cermin kondisi peradaban sebuah bangsa. Karena itu, negara maju harus mampu memastikan kebutuhan pangan masyarakatnya aman dan tidak terus bergantung kepada negara lain.
“Kalau makan itu akan mencerminkan keadaan suatu peradaban bangsa. Tidak ada negara yang maju tetapi pangannya terus bergantung kepada negara lain,” katanya.

Zulkifli menegaskan, perhatian terhadap pangan juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan petani, nelayan dan peternak sebagai pelaku utama produksi pangan.
Ia mencontohkan persoalan yang dihadapi nelayan. Dengan keterbatasan kapal, modal dan akses pasar, nelayan sering kali tidak memiliki daya tawar yang kuat ketika menjual hasil tangkapannya.
“Kalau nelayan mendapatkan ikan, tetapi tidak punya tempat penyimpanan dan akses pasar, akhirnya ikan cepat rusak dan harganya murah. Dampaknya luas, bukan hanya terhadap nelayan, tetapi juga terhadap kemiskinan, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Biaya Produksi Jadi Tantangan
Zulkifli juga menyoroti tingginya biaya produksi pangan di Indonesia dibandingkan sejumlah negara lain.
Ia mencontohkan biaya produksi beras. Menurutnya, negara seperti Thailand dan Vietnam mampu menghasilkan beras dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan Indonesia.
“Negara tetangga kita, Thailand dan Vietnam, untuk mendapatkan satu kilogram beras biayanya sekitar Rp3.800. Kita untuk mendapatkan satu kilogram beras perlu sekitar Rp12 ribu,” ujarnya.
Kondisi tersebut, menurut Zulkifli, menjadi tantangan besar yang harus dijawab melalui teknologi, peningkatan produktivitas, perbaikan tata kelola pertanian serta inovasi dalam pengolahan lahan.

Ia juga menyinggung komoditas tebu yang menurutnya menghadapi persoalan biaya produksi tinggi jika dibandingkan dengan negara produsen seperti Brasil.
“Kalau biaya produksi kita jauh lebih tinggi, kita akan terus tertinggal. Karena itu kita harus menyadari betapa pentingnya persoalan pangan ini,” tegasnya.

Dirgayuza Buku Ini Seperti Surat Cinta kepada Makanan Sementara itu, Dirgayuza Setiawan mengatakan gagasan penyusunan buku Pangan Indonesia berangkat dari keinginan untuk membuat masyarakat lebih memahami persoalan pangan secara sederhana.

Ia menilai banyak persoalan pangan sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi sering kali tidak disadari.
“Sawah berubah fungsi karena tidak menguntungkan dan tidak ada anak muda yang tertarik karena miskin. Pergi gelap, pulang gelap, badannya gelap, rezekinya gelap sekali,” kata Dirgayuza menggambarkan beratnya kehidupan petani.

Menurutnya, Indonesia memiliki sekitar 300 juta penduduk dengan wilayah yang sangat luas. Dengan jumlah penduduk dan potensi sumber daya tersebut, ketergantungan pangan terhadap negara lain tidak seharusnya menjadi kondisi permanen.
“Bayangkan 300 juta manusia Indonesia. Negara kita seluas Eropa. Masa kita mau terus tergantung kepada orang lain? Apakah itu bisa menjadi bangsa yang kuat?” ujarnya.

Dirgayuza menjelaskan, buku tersebut dibuat agar persoalan pangan dapat dipahami masyarakat secara lebih dekat, termasuk dengan mengungkap sejarah dan perjalanan berbagai bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.
Ia mengaku terinspirasi setelah membaca pidato Presiden Soekarno ketika membuka kampus UI cabang Bogor yang kemudian menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB).
“Beliau menyampaikan secara rinci dan berdasarkan matematika berapa banyak produksi pangan yang dibutuhkan untuk menjadi bangsa yang kuat. Karena pada akhirnya apa yang kita konsumsi menentukan berapa yang harus kita produksi,” katanya.

Menurut Dirgayuza, buku tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk mengajak masyarakat kembali menghargai makanan yang setiap hari hadir di meja makan.
“Buku ini seperti sebuah surat cinta kita kepada makanan yang setiap hari ada di meja makan kita. Kita mencari tahu kenapa kita makan makanan tertentu dan dari mana makanan itu berasal,” tuturnya. Dari Ayam hingga Beras, Pangan Punya Cerita Panjang
Dirgayuza mengatakan buku tersebut juga mengungkap berbagai fakta menarik mengenai pangan yang selama ini jarang diketahui masyarakat.
Ia mencontohkan konsumsi ayam di Indonesia. Menurutnya, sebagian besar ayam yang dikonsumsi masyarakat merupakan ayam broiler yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan industri perunggasan dunia.
“Contohnya ayam yang kita makan hari ini, lebih dari 90 persen adalah ayam broiler. Di buku ini kita ceritakan bagaimana sejarah ayam broiler, bagaimana genetika ayam tersebut dikembangkan dan bagaimana Indonesia bergantung pada sumber genetika dari luar,” jelasnya.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemandirian pangan bukan hanya soal memiliki lahan pertanian, tetapi juga menyangkut penguasaan teknologi, genetika, benih, bibit dan industri pendukung.
Hal serupa, lanjutnya, terjadi pada komoditas perikanan dan pertanian. Indonesia memiliki potensi besar, termasuk dalam pengembangan bibit dan keanekaragaman hayati, namun potensi tersebut harus dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi nasional.
Pangan Harus Dipahami Lebih Detail
Dirgayuza juga menilai cara masyarakat melihat komoditas pangan perlu diubah. Ia mencontohkan beras yang selama ini sering disebut hanya sebagai “beras”, padahal Indonesia memiliki banyak jenis beras dengan karakteristik dan kegunaan yang berbeda.
“Kalau wartawan bertanya kenapa harga beras naik, kita harus bertanya kembali: beras jenis apa? Indonesia memiliki banyak sekali jenis beras. Ada yang cocok untuk nasi goreng, nasi liwet, nasi biasa dan kebutuhan lainnya,” katanya.
Hal yang sama berlaku pada komoditas daging sapi. Menurutnya, berbagai negara telah mengembangkan pemanfaatan potongan daging secara lebih spesifik sehingga memiliki nilai ekonomi yang berbeda.

Karena itu, ia mendorong agar komoditas pangan Indonesia tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan melalui proses hilirisasi dan diversifikasi sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Pangan Menentukan Masa Depan Indonesia, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa persoalan pangan pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan makanan.

Pangan berkaitan langsung dengan kemiskinan, kesehatan, pendidikan, produktivitas masyarakat, pertumbuhan ekonomi hingga posisi Indonesia dalam persaingan global.
“Kalau kita tidak menyadari betapa dahsyat dampaknya, kita akan terus tertinggal,” ujar Zulkifli.
Ia menilai Indonesia tidak boleh terus berada dalam posisi sebagai negara yang bergantung pada impor pangan. Dengan jumlah penduduk yang besar dan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia harus mampu membangun sistem pangan yang kuat dari hulu hingga hilir.
“Bayangkan 300 juta manusia Indonesia tergantung terus. Padahal kita punya sumber daya yang sangat besar. Karena itu kita harus menyadari betapa pentingnya pangan,” tegasnya.
Diskusi Book Lunch Pangan Indonesia tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan bukan sekadar urusan pertanian atau harga bahan makanan, melainkan persoalan strategis yang menentukan kekuatan dan kedaulatan Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *